17 November 2015
Rusia akan mengembangkan sistem penyerang yang mampu
melumpuhkan segala jenis sistem pertahanan misil, demikian disampaikan
Presiden Rusia Vladimir Putin. Sang pemimpin Rusia tersebut juga
menyebutkan bahwa sistem pertahanan misil AS diarahkan terutama pada
Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab berbagai pertanyaan
selama sesi wawancara dengan pembawa berita saluran TV Rossiya 1 Vladimir Solovyov di Sochi, Rusia, 10 Oktober 2015.
AS dan sekutunya mengembangkan sistem pertahanan misil global yang
tujuan utamanya adalah menetralisir potensi nuklir Rusia, demikian
disampaikan Vladimir Putin dalam pertemuan tekait pengembangan industri
pertahanan, Selasa (10/11). “Kami sudah menyampaikan dalam banyak
kesempatan bahwa Rusia akan mengambil langkah yang diperlukan untuk
memperkuat potensi armada nuklir strategisnya,” tegas sang presiden.
Selama beberapa tahun terakhir, tepatnya tahun 2001 kala AS mengabaikan
kesepakatan pertahanan misil 1972 secara sepihak, pemerintah Rusia
telah menyampaikan perlunya mengembangkan armada strategis Rusia sebagai
respon atas penempatan sistem pertahanan misil Amerika. Di saat yang
sama, Moskow berkali-kali menegaskan bahwa ia tak menginginkan kompetisi
senjata dan konfrontasi skala penuh dengan Barat. Dalam sebuah
wawancara eksklusif dengan Rossiyskaya Gazeta pada Rabu (11/11), PM
Rusia Dmitri Medvedev bicara mengenai perlunya menghindari konfrontasi
militer. “Planet ini sudah melalui dua perang dunia. Jelas bahwa hal
semacam itu tak boleh terlintas di benak siapa pun,” tegas Medvedev.
Menurut para pakar, pernyataan terbaru Putin tentu akan berpengaruh
terhadap hubungan Rusia-AS, yang kini berada di titik paling kritis
sejak berakhirnya Perang Dingin. Vasily Belozyorov, Direktur Asosiasi
Analis Politik Militer, yakin bahwa kata-kata Putin mengindikasikan
status quo tertentu dan upaya Moskow untuk menjaga keseimbangan dengan
Washington.
Yars dan Bulava
Menurut Putin, dalam tiga tahun
terakhir industri pertahanan Rusia telah membangun dan sukses menguji
sistem senjata potensial yang mampu mengalahkan sistem pertahanan misil
berlapis. Pakar tak dapat menyebutkan senjata yang dimaksud, serta
mengingatkan kerahasiaan terkait pengembangan terbaru. Namun, mereka
menyebutkan sistem yang masuk perbendaharaan senjata armada Rusia tahun
lalu, yang mampu mengalahkan sistem pertahanan misil paling canggih
sekalipun.
Rusia Tantang Hegemoni AS Sebagai "Polisi Dunia"
Pertama ialah misil balistik antarbenua berbasis darat RS-24 Yars. Saat
ini armada misil strategis Rusia telah dilengkapi dengan Yars.
Diperkirakan, dalam lima tahun Yars — yang dapat menembus sistem
pertahanan misil yang sudah ada maupun yang akan datang — akan menjadi
landasan bagi kelompok nuklir Rusia berbasis darat. Tak seperti
pendahulunya Topol-M, Yars memiliki tiga hulu ledak, tak hanya satu.
Yars juga lebih tangguh menghadapi sistem anti-misil — ia memiliki
kecepatan tinggi dan hulu ledaknya yang terpisah mampu melakukan manuver
pada tahap akhir penerbangan.
Misil balistik antarbenua berbasis
laut, Bulava, juga dapat digunakan untuk mengalahkan sistem pertahanan
misil. Misil ini mampu membawa sepuluh blok nuklir hipersonik independen
yang dapat bermanuver, yang dapat mengubah ketinggian dan lintasan
penerbangan. Meski uji coba pertama tak sukses, peluncuran terbaru
Bulava terbukti efektif.
Menurut pakar militer independen Konstantin
Bogdanov, sistem operasi-taktis Iskander-M juga dapat digunakan untuk
mengalahkan sistem pertahanan misil. Misilnya dilengkapi dengan hulu
ledak nuklir. Misil bersayap Kaliber yang baru diuji coba dalam
peluncuran dari kapal Rusia di Laut Kaspia, juga menjadi pilihan lain.
Kini Rusia juga aktif memberi pendanaan terhadap pengembangan baru di
bidang penangkal nuklir. Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia telah
mencoba menciptakan misil berbahan bakar cair kelas berat, Sarmat, yang
dalam beberapa tahun mendatang akan menggantikan misil R-36M, yang
disebut Satana karena kemampuan penghancurnya yang luar biasa.
Dalam
pertemuan tersebut juga diumumkan konsep dan periode pengembangan
Sistem Multifiksional Samudera Status-6. Konstantin Bogdanov yakin bahwa
ini adalah jenis misil-torpedo dengan hulu ledak nuklir yang akan
diluncurkan dari sebuah kapal selam. Menurutnya, bukan kebetulan media
massa mengetahui proyek ini — pemerintah sengaja ingin mendemonstrasikan
kehadiran pengembangan semacam itu.
Namun, pakar menilai Armada
Misil Strategis Rusia dan pengembangan model baru akan tersiksa karena
krisis ekonomi, yang telah menurunkan PDB Rusia. “Pasukan nuklir Rusia
tentu akan menjadi salah satu prioritas. Menjaga stabilitas strategis
untuk industri pertahanan dan pemerintah jelas menjadi tujuan yang
pasti,” kata pakar dari Dewan Hubungan Internasional Rusia Prokhor
Trebin, yang yakin Rusia selalu akan mencari sumber dana untuk program
semacam itu.
16 Nov 2015
Rusia akan mengembangkan sistem penyerang yang mampu
melumpuhkan segala jenis sistem pertahanan misil, demikian disampaikan
Presiden Rusia Vladimir Putin. Sang pemimpin Rusia tersebut juga
menyebutkan bahwa sistem pertahanan misil AS diarahkan terutama pada
Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab berbagai pertanyaan
selama sesi wawancara dengan pembawa berita saluran TV Rossiya 1 Vladimir Solovyov di Sochi, Rusia, 10 Oktober 2015.
AS dan sekutunya mengembangkan sistem pertahanan misil global yang
tujuan utamanya adalah menetralisir potensi nuklir Rusia, demikian
disampaikan Vladimir Putin dalam pertemuan tekait pengembangan industri
pertahanan, Selasa (10/11). “Kami sudah menyampaikan dalam banyak
kesempatan bahwa Rusia akan mengambil langkah yang diperlukan untuk
memperkuat potensi armada nuklir strategisnya,” tegas sang presiden.
Selama beberapa tahun terakhir, tepatnya tahun 2001 kala AS mengabaikan
kesepakatan pertahanan misil 1972 secara sepihak, pemerintah Rusia
telah menyampaikan perlunya mengembangkan armada strategis Rusia sebagai
respon atas penempatan sistem pertahanan misil Amerika. Di saat yang
sama, Moskow berkali-kali menegaskan bahwa ia tak menginginkan kompetisi
senjata dan konfrontasi skala penuh dengan Barat. Dalam sebuah
wawancara eksklusif dengan Rossiyskaya Gazeta pada Rabu (11/11), PM
Rusia Dmitri Medvedev bicara mengenai perlunya menghindari konfrontasi
militer. “Planet ini sudah melalui dua perang dunia. Jelas bahwa hal
semacam itu tak boleh terlintas di benak siapa pun,” tegas Medvedev.
Menurut para pakar, pernyataan terbaru Putin tentu akan berpengaruh
terhadap hubungan Rusia-AS, yang kini berada di titik paling kritis
sejak berakhirnya Perang Dingin. Vasily Belozyorov, Direktur Asosiasi
Analis Politik Militer, yakin bahwa kata-kata Putin mengindikasikan
status quo tertentu dan upaya Moskow untuk menjaga keseimbangan dengan
Washington.
Yars dan Bulava
Menurut Putin, dalam tiga tahun
terakhir industri pertahanan Rusia telah membangun dan sukses menguji
sistem senjata potensial yang mampu mengalahkan sistem pertahanan misil
berlapis. Pakar tak dapat menyebutkan senjata yang dimaksud, serta
mengingatkan kerahasiaan terkait pengembangan terbaru. Namun, mereka
menyebutkan sistem yang masuk perbendaharaan senjata armada Rusia tahun
lalu, yang mampu mengalahkan sistem pertahanan misil paling canggih
sekalipun.
Rusia Tantang Hegemoni AS Sebagai "Polisi Dunia"
Pertama ialah misil balistik antarbenua berbasis darat RS-24 Yars. Saat
ini armada misil strategis Rusia telah dilengkapi dengan Yars.
Diperkirakan, dalam lima tahun Yars — yang dapat menembus sistem
pertahanan misil yang sudah ada maupun yang akan datang — akan menjadi
landasan bagi kelompok nuklir Rusia berbasis darat. Tak seperti
pendahulunya Topol-M, Yars memiliki tiga hulu ledak, tak hanya satu.
Yars juga lebih tangguh menghadapi sistem anti-misil — ia memiliki
kecepatan tinggi dan hulu ledaknya yang terpisah mampu melakukan manuver
pada tahap akhir penerbangan.
Misil balistik antarbenua berbasis
laut, Bulava, juga dapat digunakan untuk mengalahkan sistem pertahanan
misil. Misil ini mampu membawa sepuluh blok nuklir hipersonik independen
yang dapat bermanuver, yang dapat mengubah ketinggian dan lintasan
penerbangan. Meski uji coba pertama tak sukses, peluncuran terbaru
Bulava terbukti efektif.
Menurut pakar militer independen Konstantin
Bogdanov, sistem operasi-taktis Iskander-M juga dapat digunakan untuk
mengalahkan sistem pertahanan misil. Misilnya dilengkapi dengan hulu
ledak nuklir. Misil bersayap Kaliber yang baru diuji coba dalam
peluncuran dari kapal Rusia di Laut Kaspia, juga menjadi pilihan lain.
Kini Rusia juga aktif memberi pendanaan terhadap pengembangan baru di
bidang penangkal nuklir. Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia telah
mencoba menciptakan misil berbahan bakar cair kelas berat, Sarmat, yang
dalam beberapa tahun mendatang akan menggantikan misil R-36M, yang
disebut Satana karena kemampuan penghancurnya yang luar biasa.
Dalam
pertemuan tersebut juga diumumkan konsep dan periode pengembangan
Sistem Multifiksional Samudera Status-6. Konstantin Bogdanov yakin bahwa
ini adalah jenis misil-torpedo dengan hulu ledak nuklir yang akan
diluncurkan dari sebuah kapal selam. Menurutnya, bukan kebetulan media
massa mengetahui proyek ini — pemerintah sengaja ingin mendemonstrasikan
kehadiran pengembangan semacam itu.
Namun, pakar menilai Armada
Misil Strategis Rusia dan pengembangan model baru akan tersiksa karena
krisis ekonomi, yang telah menurunkan PDB Rusia. “Pasukan nuklir Rusia
tentu akan menjadi salah satu prioritas. Menjaga stabilitas strategis
untuk industri pertahanan dan pemerintah jelas menjadi tujuan yang
pasti,” kata pakar dari Dewan Hubungan Internasional Rusia Prokhor
Trebin, yang yakin Rusia selalu akan mencari sumber dana untuk program
semacam itu.
0 Response to "Hadapi Ancaman AS, Rusia Kembangkan Sistem Penyerang Nuklir"
Posting Komentar